Jumat, 06 September 2019

Ekowisata Perairan Indonesia


Ekowisata Perairan Indonesia
By Khoirul Anwar

Ekowisata merupakan suatu konsep wisata yang saat ini sedang trend. Ya, ekowisata adalah konsep wisata yang tidak hanya berdasarkan permintaan pengunjung (demand) tetapi juga berdasarkan pada carrying capacity. Yang dimaksud carrying capacity adalah suatu kemampuan wilayah atau ekosistem untuk menampung pengunjung tanpa harus dimodifikasi maupun dirusak.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia sangat cocok untuk mengaplikasian ekowisata, terutama ekowisata perairan. Indonesia sebagai negara maritim memiliki lautan yang sangat luas. Posisi Indonesia di wilayah tropis membuat Indonesia menjadi negara yang strategis untuk membangun ekowisata Laut karena memiliki keanekaragaman biota laut yang sangat tinggi. Namun demikian tentu dalam membangun ekowisata laut di Indonesia ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya kesiapan Sumber Daya Manusia, kesadaran masyarakat lokal tentang asset Lingkungan yang mereka miliki sebagai daya Tarik  turis dan wisatawan asing untuk datang ke tempat tinggal mereka.

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan untuk memban,gun ekowisata laut di Indonesia, yaitu demand dan capacity carrying. Demand atau permintaan atau biasa yang dipakai oleh institusi pemerintahan sebagai target jumlah wisatawan yang mengunjungi suatu tempat wisata. Demand ini biasanya akan cenderung untuk selalu ditingkatkan untuk mendapatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Capacity carrying adalah kemampuan atau kapasitas suatu wilayah atau wisata untuk menampung jumlah pengunjung. Hal tersebut seringkali yang dilupakan oleh pengelola wisata. Pengelola enderung selalu ingin meningkatkan demand disbanding memperhatikan aspek carrying capacity. Padahal dua hal tersebut merupakan hal yang sangat penting diperhatikan untuk menerapkan suatu ekowisata.

Tentu dalam mewujudkan ekowisata di Indonesia perlu adanya kerjasama antara masyarakat dan pemerintah. Kesadaran masyarakat untuk selalu menjaga dan merawat laut sangat diperlukan. Selain itu kemauan masrakat kita untuk membayar komensasi atas apa yang telah diberikan alam juga sangat penting untuk dibangun. Hal ini berkaitan dengan mindset masyarakat Indonesia sendiri sehingga memerlukan waktu untuk merubahnya.

Dukungan pemerintah dari kementrian pariwisata sangatlah penting, misalnya berupa membuat program-program yang membangun masyarakat di sekitar pantai serta mensosialisasikaan konsep bagaimana definisi dan konsep tentang ekowisata itu sendiri.

Suatu kawasan yang bisanya dijadika kawasan ekowisata adalah kawasan dengan keindahan alam yang sangt bagus atau memiliki suatu spesies endemik atau unik. Suatu kawasan yang akan dijadikan pariwisata harus memperhatikan kepuasan pengunjung dan kepuasan ekosistem itu sendiri. Kepuasan pengunjung berdasarkan kepada apa yang diinginkan oleh pengunjung saat berwisata. Sedangkan kepuasan ekosistem berdasarkan pada keberlanjutan dan keberlangsungan ekosistem di daerah tersebut.

Berdasarkan konsep ekowisata suatu wilayah bisa dijadikan sebagai kawasan ekowisata atau tidak. Misalnya permintaan pengunjung yang tinggi (demand yag tinggi) untuk mengunjungi suatu tempat wisata, apakah masih bisa diterapkan suatu ekoswisata? Bagaimana caranya? Silahkan salurka ide dan pendapat saudara pembaca di kolom komentar.



Selasa, 03 September 2019

Fungal Comb, Kebun Jamur Buatan Rayap




 Fungal Comb, Kebun Jamur Buatan Rayap

By Khoirul Anwar


Rayap tanah Macrotermitinae merupakan subfamili rayap dari famili Termitidae. Rayap ini banyak tersebar di daerah tropis mulai Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan dan Asia Tenggara, namun tidak ada di Amerika Tengah dan Selatan serta Australasia (Eggleton 2000).
Rayap Macrotermitinae hidup bersimbiosis dengan cendawan Termitomyces di dalam sarangnya. Cendawan simbiotik Termitomyces sp. ditumbuhkan pada substrat khusus yang disebut termite fungus comb. Termite fungus comb (TFC) merupakan substrat khusus yang dibuat dan dipelihara oleh rayap. TFC terdiri dari miselium cendawan Termitomyces itu sendiri dan substrat. Cendawan Termitomyces pada comb tidak memiliki fase bebas (free living phase) seperti cendawan simbiotik pada umumnya, misalnya memiliki konidia yang disebarkan oleh angin. Walaupun cendawan ini dapat ditumbuhkan pada medium sederhana di laboratorium, tetapi cendawan tersebut diketahui tidak bersporulasi (Thomas 1985). TFC dibuat di dalam sarang rayap dalam posisi terkubur atau epigeal.
Macrotermitinae telah mengembangkan kebiasaan interaktif yang kompleks untuk memelihara dan memperbanyak cendawan simbion secara eksternal. Bagian dari aktifitas ini adalah penekanan cendawan lain yang berkompetisi dengan Termitomyces sehingga cendawan tersebut kehilangan kemampuan kompetisi dengan sendirinya, dan ketika TFC segar dipisahkan dari rayapnya, cendawan kompetitor tumbuh dengan cepat (Wood dan Thomas 1989).
Macrotermitinae umumnya memakan jaringan tanaman seperti serasah daun, rumput mati, dan kayu mati yang segar yang tidak banyak terdekomposisi. Material dilewatkan melalui saluran pencernaan rayap dengan cepat sebelum digabungkan dengan TFC (Martin 1987). Macrotermitinae tidak seperti rayap yang lainnya tidak menghasilkan senyawa organik dalam jumlah yang besar dalam feses akhirnya, tetapi berwarna agak hitam, berlumpur dan mengandung mineral, asam urat dan sisa pigmen cendawan yang diletakkan jauh dari koloni utama. Juga diketahui bahwa Termitomyces memiliki kemampuan mendegradasi lignin (Garnier-Sillam et al. 1988).
TFC bersifat organik, memiliki bermacam macam bentuk arsitektur bangunan yang berbeda-beda sesuai taksa rayap pembuatnya (Gambar). Arsitektur TFC menyediakan sruktur permukaan yang luas sehingga terjadi sirkulasi udara serta dapat dijangkau oleh rayap pekerja dan nimfa. Comb baru terbuat dari campuran feces rayap, dan dieram selama beberapa hari hingga dihasilkan kumpulan konidia yang disebut nodul atau mikotetes pada permukaan miselium. Nodul kemudian dimakan oleh rayap pekerja dan miselium yang sudah tua nantinya juga ikut dimakan oleh rayap pekerja.


Jumat, 16 Agustus 2019

Jamur Rayap Termitomyces

Termitomyces hemii yang tumbuh pada komb di dalam sarang rayap di dalam tanah

Manfaat Jamur Termitomyces bagi Manusia


Jamur Termitmyces yang ditanam oleh rayap penanam jamur, tenyata juga memberikan manfaat bagi manusia, karena jamur Termitomyces yang ditanam oleh rayap pada sarangnya dapat memunculkan tubuh buah yang juga dapat dikonsumsi oleh manusia. Tubuh buah jamur ini tumbuh dari kebun jamur yang terdapat di sarang rayap yang ada di dalam tanah. Jamur Termitomyces tumbuh menembus permukaan tanah yang keras. Bagian Pillus jamur ini dapat mencapai diameter hingga satu meter, yaitu Termitomyces titanicus. Tubuh buah jamur Termitomyces ini merupakan jamur berukuran terbesar di dunia yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Jamur ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Afrika

Termitomyces titanicus jamur edible terbesar di dunia dengan diameter mencapai satu meter




















Sejak tahun 1990, telah dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan nutrisi dari Jamur Termitomyces. Tenyata Termitomyces umkowaani memiliki kandungan nutrisi asam amino yang lbih tinggi dibanding jamur edibel yang laiinya. Asam amino tersebut adalah metionin dan cysteine. Kandungan asam amino dari jamur ini termasuk yang tertinggi dibanding dengan jamur yang lain, sehingga jamur ini dapat dijadikan sumber protein bagi manusia (Wilhelm, 1992).
Hingga sekarang belum ada manusia yang berhasil membudidyakan jamur Termitomyces, sehingga perlu dilakukan banyak penelitian untuk tujuan membudidayakannnya.

Benarkah Bogor Macet Gara-Gara Angkot? (Opini)


Bogor dinobatkan kota lalu lintas terburuk ke-2 di dunia versi Waze

Benarkah Bogor Macet Gara-Gara Angkot? (Opini)

Kalau menurut aku sih enggak. Bogor macet karena banyak dari kamu yang gamau naik angkot. Iya, kamu lebih suka naik motor, kamu leih suka naik grab, kamu lebih suka naik kendaraan pribadi.
Nah kenapa kalian gmau angkot? Alasannya banyak, angkot banyak yang ngetam, jadi lama.
Neng, A, Mas, teteh… kalau angkot enggak ngetem supir angkotnya gimana mau kasih setoran?
Memang sih kalau kita bandingkan dengan negara-negara maju. Kita senang sekali dan berdecak kagum dengan sistem transportasi di sana. Misalnya di jepang transportasi umum sangan ontime dan nyaman. Sehingga banyak warganya yang suka naik angkutan umum. Kenapa kok bisa begitu? Iya supirnya ternyata digaji bulanan, tidak perduli berapapun jumlah penumpang yang mereka dapatkan perhari. Tugasnya supir  hanya melaksanakan SOP berkendara yang sudah dibuat, harus sampai di pemberhentian berikutnya dengan tepat waktu, berhenti tidak sembarangan. Terus terlintas dipikiran saya berarti supirnya digaji seperti PNS gitu ya. Iya.
Pertanyaannya adalah sudah mampukah pemerintah kita (enggak tahu saya ini pemerintah daerah, pemerintah kota atau pemerintah pusat maksudnya) menggaji para supir angkot dan melakukan upaya penertiban. Nah kalau bahas masalah itu sangat ribet, membutuhkan waktu yang lama, paling-paling berakhir wacana. Jadi solusi yang pingin gw usulin adalah budayakan naik angkot, dan kepada bapak supir angkot yang terhormat terutama yang di Bogor, mohon pengertiannya supaya tidak ngetem terlalu lama. Kalau bapak supir semua tidak mau kalah saing dengan perkembangan zaman modern dengan adanya transportasi online, mulailah diperbaiki dulu dari diri sendiri, berangkat ontime, disiplin waktu dan perbaiki fasilitas yang ada. Bukan malah memberikan aturan dilarang ojek online. Saya menilai itu solusi yang kurang cerdas dan tidak fair dalam bisnis. 
Coba deh pak walikota atau pak Bupati bogor ngadain “simulasi atau gerakan bersama naik angkot selama seminggu” berani gak tuh. Nah nanti baru dilihat respon masyarakat bagaimana, tentunya kegiatan ini harus dilakukan dengan sosiaslisasi yang maksimal, terutama kepada para supir angkot dan kepada semua warga bogor. Sekarang udah jamannya WA, tinggal dijarkom aja dan diviralkan, Insyallah. Ingat, ini tuh masalah manyak dan penyelesaiannya tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu pihak saja, semuanya harus bergerak bersama sama (antara penumpang dengan supir). Siapa yang bisa menggerakkan banyak orang? Ya Tokoh masyarakat atau pemimpin, saiapa pemimpinnya? Masalah ini mau diselesaikan atau tidak tergantung anda anda semua yang membaca tulisan ini. Saya sebagai penulis akan sangat senang sekali dan berterimakasih jika tulisan ini dibaca oleh semua orang. (Penulis: penumpang angkot bogor yang sedang memikirkan bagaimana memajukan Bogor yang dicintainya) #ThePowerOfThePeople

Senin, 11 Desember 2017


Rayap sebagai Petani Jamur Liar Edible Termitomyces

Rayap banyak dikenal oleh masyarakat sebagai semut putih, padahal sebenarnya rayap bukanlah semut. Sebenarnya rayap lebih dekat kekerabatannya dengan kecoa, sehingga ada yang menyebunya sebagai kecoa sosial.
Ada 2600 spesies rayap yang telah diketahui, yaitu terdiri atas 7 famili dan 281 genus/marga. Rayap merupakan serangga cosmopolitan tetapi secara geografis sangat terbatas ditemukan di daerah panas.
Semua rayap merupakan organisme sosial. Reproduksi dari rayap sosial secara normal, sangat terbatas, yaitu hanya pada satu pasangan yang bisa disebut “royal couple”, terdiri atas satu ratu dan satu raja. Ratu dan raja memiliki masa hidup yang lebih lama dibanding dengan pekerja dan tentaranya. Para pekerja dan tentaranya tidak bereproduksi, melainkan hanya membantu ratu untuk bereproduksi. Rayap juga termasuk organisme yang memiliki hubungan khusus dengan organisme lain selama hidupnya. Rayap membutuhkan organisme lain seperti bakteri dan protozoa untuk mencerna makanannya.
Tidak semua jenis rayap dapat membudidayakan jamur pada sarangnya, melainkan hanya sebagian kecil saja. Jenis rayap yang dapat membudidayakan jamur yaitu sub family Macrotermitinae yang terdiri atas 11 marga dan 330 spesies. Rayap pembudidaya jamur hanya ditemukan di Afrika dan Asia.
Telah diketahui sejak lama bahwa beberapa jenis rayap melakukan aktivitas agrikultur atau pertanian. Pertanian yang dilakukan oleh rayap yaitu budidaya jamur. Rayap membudidayakan jamur di dalam sarangnya di dalam tanah. Duur Aanen dan Wilhelm de Beer (2007) melakukan penelitian terbaru yang menduga bahwa pertanian rayap bermula dari hutan hujan Afrika Tengah kemudian menyebar hingga Savana dan Asia.
Diketahui bahwa manusia mulai melakukan agrikultur sudah 10000 tahun yang lalu, tetapi kegiatan menanam untuk memenuhi makanannya sendiri merupakan hal yang sudah biasa dilakuka oleh manusia. Ternyata kegiatan menanam untuk memenuhi makanan juga dilakukan oleh sekelompok rayap sub family Macrotermitinae. Rayap ini telah melakukan aktifitas pertanian untuk memenuhi makanannya dengan cara membudidayakan jamur pada sarangnya, bahkan sejak berjuta tahun yang lalu.
Hubungan kerjasama antara rayap dan jamur merupakan suatu contoh yang sangat mengesankan dari suatu simbiosis mutualisme. Simbiosis mutualisme yaitu hubungan antara dua organisme yang berbeda yang saling menguntungkan antara kedua organisme tersebut. Dalam hal ini, rayap membangun sarangnya layaknya sebuah greenhouse. Kemudian rayap mencari bahan-bahan organik yang diperlukan  untuk membangun suatu kebun jamur. Bahan-bahan organik tersebut nantinya akan menjadi substrat bagi jamur untuk tumbuh. Jamur akan tumbuh pada substrat yang telah dibuat oleh rayap, mendekomposisi senyawa karbon kompleks seperti, selulosa dan lignin yang rayap tidak bisa lakukan karena rayap tidak memiliki enzim untuk mencerna secara langsung untuk menjadi zat yang kaya akan nitrogen yang nantinya digunakan rayap sebagai bahan makanannnya.
Suatu koloni rayap dapat secara konsisten menjaga ribuan pekerja dan tentara agar tetap sterile untuk mencegah terjadinya kontaminasi terhadap kebun yang telah dibangun. Sarang rayap yang dibangun dapat menjadi sangat besar karena jamur terus tumbuh dan dirawat oleh rayap pekerja. Rayap secara constant menanambah bahan material yang baru untuk sarang mereka dan rayap yang lain memakan bagian sarang yang lama, atau nodule.

Terjebak dalam Kaca

Oleh: Khoirul Anwar


Dikala senja saat itu, warna langit di ufuk barat mulai memerah sedangkan awan hitam di atas masih meneteskan hujan rintik rintiknya. Kodok sawah mulai bersuara tak malu malu menyambut datangnya petang saat itu. Di suatu tempat gelap, Lorong Lorong di bawah tanah terdapat gua nan indah dan luas, hasil bangunan oleh puluhan tahun raja dan ratu rayap beserta pekerjanya. Cuacanya gelap gulita di dalam menjadi pemandangan yang biasa dan tak pernah jadi masalah.

Di hiruk pikuknya para pekerja rayap yang sibuk membuat kanal kanal dan lorong-lorong menyiapkan jalan para kandidat kandidat ratu dan raja baru di kerajaan berikutnya yang akan mereka bangun, terdengar tawa bahagia laron laron muda yang bersiap siap menemui calon pasangan mereka di alam tanpa batas. Ya, lorong-lorong menghubungkan gua itu dengan tempat tanpa batas, langit langit yang dihiasi bintang bintang nan berkilauan, suatu tempat ketikabertemunya para laron dengan calon pasangan hidupnya.

Tak lama kemudian hujan mulai reda, awan di langit telah kehabisan air untuk sang tanah. Gerombolan laron mulai baris berbondong bondong bergegas keluar menuju alam tanpa batas. Satu persatu mulai mengepakkan sayap tipis indahnya, dan mereka pun mulai terbang. Gembira dan suka cita yang mereka rasakan. Mereka berkumpul di suatu titik cahaya, cahaya akibat pantulan rembulan di batang pohon yang masih basah akibat hujan tadi. Banyak pemuda dan pemudi laron bercengkerama di sana, melakukan tarian untuk saling memikat satu sama lain.

Jack dan Lery, sepasang laron yang baru saja bertemu asyik bercakap cakap di suatu ranting. “ Hai, namaku Jack, bolehkan aku berkenalan dengan mu?”. Halo, Jack. Aku Lery, berasal dari barat daya. Bagaimana denganmu Jack?”. Oh aku dari tenggara. Senang bisa bertemu denganmu. Tarianmu bagus juga. Aku sangat menyukainya. Oya? terimakasih, kau juga sangat cantik. Bagaimana kalau kita menari bersama. Ok ayo kita menari bersama sama. Begitulah cara mereka mencari pasangan. Menari adalah suatu acara sakral sebagai ritual perkawinan. Perlahan mereka melepaskan sayap tipis nan indah mereka masing-masing yang membuat mereka jatuh tanah. Akhirnya, Jack dan Lery pun menikah dan memutuskan untuk hidup Bersama membangun keluarga mulai dari awal.

Saat itu ada si Ilun, anak manusia umur 9 tahun yang menyaksikan keramaian di pohon itu. Ilun melihat Jack dan Lery yang baru saja jatuh dari pohon. Kemudian dia menangkapnya dan menaruhnya di dalam botol kaca. Sepasang laron suami istri tertangkap di dalam sebuah botol kaca yang di dalamnya berisi tanah. Sepasang laron itu memutuskan untuk tinggal di sana dan membangun rumah mereka. Laron membangun rumahnya di dalam tanah dan berbentuk seperti suatu ruangan atau gua yang berbentuk dome. Sepasang laron itu menetap di rumah mereka dan tidak pernah keluar. Si istri laron beberapa hari kemudian bertelur. Sang suami laron tetap menemani istrinya yang sedang hamil itu. Istri laron meletakkan telurnya di dalam rumah sederhana yang mereka buat itu. Hampir setiap hari sang istri laron mengeluarkan telur dan mengumpulkan telurnya di dalam rumah itu. Pasangan laron itu tetap setia di dalam rumah itu dan tidak pernah keluar rumah. mereka berdua setia menunggu calon anak-anak mereka menetas. Selama menunggu anak-anaknya menetas sepasang laron itu tidak pernah keluar rumah dan tidak ditemukan aktivitas untuk mencari makan, sehingga dapat diduga bahwa mereka melakukan puasa selama menunggu anak-anaknya menetas. Hari demi hari mereka lalui dengan sabar. Sepasang kekasih, suami dan istri laron tersebut saling mengasihi dan menyayangi. mereka saling merawat satu sama lain dengan cara saling membersihkan tubuh masing-masing. Kurang lebih empat puluh hari kemudian si telur laron mulai menetas. Sepasang laron itu sangat bahagia melihat telur telur mereka mulai menetas. Satu demi satu telur laron menetas. mereka merawat anak anak laron itu dan memberinya mereka makan dari dalam tubuh bapak dan ibu laron yang sedang berpuasa itu. Di saat mereka berpuasa mereka masih mampu memberi makan anak-anaknya, merawat anak-anaknya hingga dewasa. 

Anak anak laron dididik oleh bapak ibu laron ada yang menjadi pekerja dan ada juga yang menjadi tentara. Sambil memberi makan sang ibu berpesan kepada anak-anaknya, kelak ketika dewasa mereka harus menjadi rayap yang rajin dan berguna bagi semua makhluk ciptaan Tuhan. Hingga pada akhirnya anak-anak laron cukup dewasa dan dapat mulai keluar dari rumah. Anak-anak laron dan saudara-saudaranya bekerja sama membangun liang kembara atau lorong lorong menuju keluar rumah. Saudara rayap yang menjadi tentara menjaga saudaranya rayap pekerja dan juga bapak ibunya. 

Pekerjaan anak-anak rayap pekerja adalah mengumpulkan kayu sebagai substrat untuk membangun kebun jamur. Mereka membuat kebun jamur untuk orang tua yang telah merawatnya dari kecil dan juga saudara-saudaranya yang membutuhkan makan. Sedikit demi sedikit anak-anak pekerja mulai mengumpulkan kayu di dalam rumah hingga beberapa hari kemudian jamur yang mereka tanam mulai tumbuh dan berkembang biak. Akhirnya mereka panen jamur itu. Mereka makan dari hasil kebun jamur itu. Di saat itulah bapak dan ibu laron mulai melakukan aktivitas makan. mereka berbagi satu sama lain, saling suap menyuapi ketika mereka makan. Rayap pekerja terus dengan rajinnya mengumpulkan kayu dan seresah untuk memperbesar kebun mereka, karena semakin hari saudara-saudaranya bertambah banyak dan banyak yang harus diberi makan. Hingga di suatu musim berikutnya tibalah saatnya anak-anak rayap calon laron laron baru mulai berkelana untuk mencari pasangan. kebun mereka mulai ditinggal. Jamur terus tumbuh walaupun tidak dirawat oleh sang rayap pekerja. akhirnya jamur itu tumbuh membentuk tubuh buah yang sangat besar, menembus rumah rayap menuju permukaan tanah. Jamur itu menyebarkan spora sebagai benih jamur bagi calon pasangan-pasangan laron baru. Tubuh buah jamur itu juga dapat dimakan oleh organisme lain selain rayap seperti, kumbang, siput, dan juga manusia.


Itulah hasil pekerjaan suatu makhluk yang bernama rayap. Mulai dari melakukan aktivitas laron yang berpuasa, saling tolong menolong, rajin dan bekerja sama membangun kebun untuk memberi makan banyak makhluk. anak-anak rayap juga sangat taat dan patuh kepada nasihat orang tuanya. Subhanallah. kita sebagai manusia sosial patut kiranya meniru tingkah laku rayap sebagai serangga sosial. (Khoirul Anwar)

Ke Jawa Timur



Ke Jawa Timur

Malam ini saya sedang melakukan perjalanan dari Bogor menuju Jember. Saya datang ke Jember untuk menghadiri acara pernikahan teman dekat saya, Dwi Sendi Priyono. Saya bersama kedua teman saya, Yendra Pratama dan Agus berangkat bersama-sama naik kereta Kertajaya menuju Surabaya. Setelah sampai Surabaya nanti kami akan naik kereta lagi menuju Jember karena tidak ada kereta yang jurusannya dari Pasar Senen (Jakarta) langsung menuju Jember. Sekarang jam menunjukkan pukul 19.30 saya duduk di dalam kereta ekonomi yang sekarang sudah ber-AC. Di tempat duduk saya ada satu orang disamping saya dan dua orang lainnya di hadapan saya. Mereka bertiga sepertinya musisi, karena dapat saya lihat mereka membawa perlengkapan alat musik, bas, gitar. Penampakanya yang memakai tato memperkuat dugaan saya bahwa mereka adalah musisi atau anak band. Walaupun penampakannya menyeramkan, mereka bertiga adalah orang baik, dapat dilihat dari caranya tersenyum menyapa saya. Sambil menulis cerita ini saya mendengar mereka sedang bercakap-cakap dalam bahasa sunda. Saya tidak mengerti apa yang mereka bisacarakan. Semoga perjalanan kami lacar, sampai di Jemer denga selamat. Saya akan tiba di surabaya sekitar pukul dua pagi jika dilihat dari jadwal yang tercantum pada tiket. Kereta selanjutnya berangkat dari Surabaya pukul empat pagi dan mungkin akan sampa di Jember sekitar pukul delapan atau sembilan pagi. Jadi lama perjalanan dari Surabaya menuju Jember melalui kereta membutuhkan waktu empat jam. Sesampai di Jember, rencananya kami akan menginap dulu di rumah sahabat saya itu, karena acara resepsinya dalah tangal 18 keesokan harinya. Setela dari acara resepsi saya akan pulang ke Pasuruan untuk bertemu Bapak dan Ibu di rumah. Saya sudah mengabari beliau berdua kalau saya akan pulang pada tangal tersebut. Di rumah saya akan tengok kambing saya, katanya sudah beranak untuk kedua kalinya. Alhamdulilla saya sangat bersyukur. Agenda saya selanjutnya adalah mengambil sampel rayap untuk saya identifikasi. Setelah itu saya akan ke Malang, tepanya ke Universitas Brawijaya untuk mengirimkan sampel tanah untuk diuji kandungannya. Tanah yang akan saya ujiakan adalah tanah yang saya bawa dari Bogor. Saya juga sudah menghubungi teman saya yang sedang kuliah di UB untuk menemani saya ke Lab Tanah nantinya. DI Malang saya akan bertem dengan teman teman lainya juga. Setelah dari Malag saya sebenarnya bingung mau langsung kembali ke Bogor atau pulang dulu ke Pasuruan. Kalau dilihat dari efisiensi waktu dan biaya saya sebaiknya dari malang langsung balik ke Bogor. Tapi entahlah annti akan jadi seperti apa, saya akan lihat kondisi dan situasinya. Semoga agenda yang sudah daya rencanakan ini berjalan dengan lancar dan tiada hambatan apapun. Hari Kamis saya berangkat ke Bogor dari Malang dan akan tiba di Jakarta hari jumat dini hari. Selanjutnya daya melanjutkan perjalann ke Bogor naik kereta listrik (KRL). Pukul delapan pagi saya ada kulia Anlisis Statistika. Semoga nanti waktunya nutut sehingga saya masih bisa megikuti perkuliahan tersebut. Terimakasih itu adalah cerita rencana agenda saya ke Jawa Timur kali ini sambil mengisi waktu di kereta.